Kang Surya
CoretanTerbaru

Kantin yang Tidak Dijaga

“Saya itu dulu sempat ragu…”

Kalimat itu keluar pelan dari mulutku, di sela-sela obrolan santai sore hari di ruang kepala sekolah. Di luar, suara siswa masih terdengar, ada yang tertawa, ada yang berlari, ada yang sekadar duduk menikmati sisa waktu pulang.

“Saya bikin kantin… tapi tidak ada yang jaga.”

Orang yang mendengarnya sempat mengernyit.

“Lalu, siapa yang jualan?”

Aku tersenyum.

“Justru itu. Tidak ada yang jualan. Tidak ada yang ngawasin. Hanya ada makanan, daftar harga, dan kotak uang.”

Aku berhenti sejenak, seolah kembali ke hari-hari awal itu.

“Namanya Kantin Kejujuran.”

Hari pertama dibuka, suasana terasa berbeda.

Siswa mendekat dengan rasa penasaran. Ada yang membaca tulisan harga. Ada yang saling berbisik. Ada juga yang tertawa kecil, mungkin menganggap ini semacam eksperimen aneh dari kepala sekolahnya.

Aku hanya mengamati dari jauh.

Aku tahu, ini bukan soal jualan.

Ini soal kepercayaan.

Hari itu berjalan… dan sore harinya, ketika uang dihitung, hasilnya tidak sesuai.

Kurang.

Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat sebagian guru geleng-geleng kepala.

“Pak, ini mah bakal rugi terus,” kata salah satu guru.

Aku hanya tersenyum.

“Kalau tujuan kita untung uang, mungkin iya. Tapi kalau tujuan kita membentuk karakter… kita harus siap rugi dulu.”

Hari-hari berikutnya, cerita-cerita kecil mulai terdengar.

“Ada yang darmaji, Pak…” bisik seorang guru.

Aku tertawa kecil. “Dahar lima, ngaku hiji?”

Guru itu ikut tersenyum pahit.

“Bahkan ada yang dimasukin ke saku… ada juga yang diselipin ke dalam baju.”

Aku mengangguk pelan, tidak marah.

Tidak juga langsung mengumumkan di depan upacara.

Aku memilih cara lain.

Suatu pagi, Aku berdiri di hadapan siswa-siswa, tidak membawa data.

Tidak menyebut nama.

Aku hanya bercerita.

“Anak-anak,” kataku, “kalau suatu hari kalian dipercaya… tapi kalian memilih mengambil lebih dari yang seharusnya… sebenarnya yang kalian ambil itu bukan makanan.”

Siswa mulai diam.

“Itu adalah kesempatan untuk jadi orang yang dipercaya.”

Suasana hening.

“Dan kepercayaan itu… sekali hilang, sulit kembali.”

Tidak ada yang menunduk secara dramatis.

Tidak ada yang langsung berubah hari itu juga.

Tapi kata-kata itu… tinggal.

Minggu demi minggu berlalu.

Masih ada yang curang.

Masih ada yang ‘lupa’ membayar.

Tapi jumlahnya… perlahan berkurang.

Suatu hari, seorang siswa datang ke ruang kepala sekolah.

Wajahnya ragu.

“Pak… saya mau bayar yang kemarin.”

Aku menatapnya lembut. “Yang mana?”

“Saya… waktu itu ambil dua, tapi bayar satu.”

Tangannya gemetar saat menyerahkan uang.

Aku tidak langsung mengambilnya.

Aku hanya bertanya, “Kenapa sekarang mau bayar?”

Siswa itu menunduk. “Kepikiran terus, Pak.”

Aku tersenyum.

“Bagus. Artinya hati kamu masih bekerja.”

Hari itu, Aku kembali duduk di ruangan Kepala Sekolah, menatap ke arah kantin kecil yang sederhana itu.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada CCTV.

Hanya rak makanan, daftar harga, dan kotak uang.

“Ternyata…” kataku pelan, “anak-anak itu bukan tidak bisa jujur.”

Aku tersenyum.

“Mereka hanya butuh dipercaya… dan diberi waktu untuk belajar.”

Di luar sana, seorang siswa mengambil makanan, lalu berhenti sejenak.

Ia membuka dompetnya.

Menghitung uangnya dengan teliti.

Lalu memasukkan sesuai harga.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Aku melihat itu.

Dan kali ini, Aku tahu, yang berubah bukan kantinnya.

Tapi hati anak-anak di dalamnya.

Dan itu… jauh lebih berharga dari sekadar uang yang masuk ke kotak kecil di sudut ruangan itu.

Lebakwangi, Oktober 2025 – Kang Surya

Related posts

Pastikan Sistem Lebih Transparan dan Berkeadilan, Uji Publik SPMB 2026/2027 Digelar

Surya

Guru yang Mengajar dengan Luka yang Tidak Terlihat

Surya

Bunda yang Menulis dengan Cinta

Surya

Leave a Comment