23 April selalu punya makna tersendiri. Bukan sekadar penanda bertambahnya usia, tetapi juga momen untuk menengok kembali jejak-jejak yang telah ditinggalkan seseorang dalam hidup banyak orang.
Pada tanggal itu, Bunda Ela Helayati merayakan ulang tahunnya. Namun bagi saya, sebagai seorang penulis yang pernah menyusuri kisah hidup beliau dalam buku “Jejak Hati: Perjalanan Hidup Bunda Ela Helayati untuk Dunia Pendidikan”, hari itu terasa lebih dari sekadar perayaan personal. Ia adalah pengingat tentang bagaimana satu kehidupan bisa menjadi sumber cahaya bagi banyak jiwa.
Saya masih ingat ketika pertama kali mencoba “membaca” Bunda bukan lewat data, bukan lewat jabatan, tapi lewat percakapan-percakapan sederhana yang justru membuka kedalaman makna. Dari sana saya menyadari, Bunda bukanlah sosok yang ingin ditulis sebagai tokoh besar. Ia lebih memilih menjadi alasan mengapa orang lain bisa berdiri lebih kuat.
Ada satu hal yang selalu saya tangkap dari beliau: ketulusan yang tidak dibuat-buat.
Di tengah banyaknya peran yang beliau emban dari dunia pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat—Bunda tetap hadir sebagai “ibu” dalam arti yang paling utuh. Mendengarkan tanpa menghakimi, membantu tanpa menghitung, dan berjalan tanpa perlu sorotan.
Sebagai penulis, saya terbiasa mencari titik dramatis dalam sebuah cerita. Namun pada diri Bunda, justru kesederhanaanlah yang menjadi kekuatan naratifnya. Ia tidak sedang berusaha menjadi luar biasa, tetapi justru karena itulah ia menjadi begitu berarti.
Dalam proses penulisan buku Jejak Hati, saya belajar satu hal penting: bahwa pengabdian yang sejati tidak selalu bersuara keras. Ia sering kali hadir dalam bentuk langkah-langkah kecil yang konsisten, dalam sapaan hangat, dalam kepedulian yang mungkin terlihat biasa—namun dirasakan luar biasa oleh mereka yang menerima.
Bunda Ela Helayati adalah potret dari itu semua.
Di usianya hari ini, saya tidak melihat angka sebagai ukuran. Saya melihatnya sebagai akumulasi cinta yang telah dibagikan. Setiap tahun yang bertambah bukan sekadar usia, melainkan bertambah pula jejak kebaikan yang ia tinggalkan.
Dan mungkin, itulah makna ulang tahun yang paling jujur, bukan tentang dirayakan, tetapi tentang dirasakan.
Sebagai seorang penulis, saya merasa beruntung pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan cerita beliau. Namun sebagai manusia, saya merasa belajar banyak—tentang bagaimana hidup tidak harus selalu besar untuk bisa berdampak.
Cukup menjadi tulus.
Cukup menjadi hadir.
Cukup menjadi “bunda” bagi sesama.
Selamat ulang tahun, Bunda Ela Helayati.
Semoga setiap langkah yang telah dan akan ditempuh, selalu menjadi cahaya—bukan hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi kemanusiaan.
Dan seperti yang saya tulis dalam buku itu, yang kini terasa semakin nyata:
“Tidak semua orang dikenang karena namanya, tetapi banyak yang hidup karena kebaikan yang ia tinggalkan.”
Catatan Kang Surya
