Kang Surya
CerpenTerbaru

Guru Senior yang Takut Tertinggal Zaman

Pagi itu, ruang aula sekolah lebih ramai dari biasanya.

Beberapa guru duduk berkelompok, sebagian tampak antusias, sebagian lagi hanya mengikuti arus. Di depan, layar proyektor sudah menyala, menampilkan tulisan besar:

“Pelatihan Pembelajaran Digital”

Sebuah program yang, di atas kertas, terlihat sederhana.

Tapi dalam praktiknya… tidak semua merasa siap.

Saya berdiri di belakang ruangan, memperhatikan satu per satu wajah guru.

Ada yang sibuk mencoba laptopnya.
Ada yang saling bertanya.
Ada yang tertawa ketika salah menekan tombol.

Dan di sudut kiri, saya melihat Bu Retno.

Duduk sendiri.

Tangannya berada di atas laptop, tapi tidak bergerak.

Tatapannya fokus ke layar, tapi kosong.

Seperti seseorang yang sedang membaca bahasa yang tidak ia pahami.

Bu Retno bukan guru biasa.

Ia sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun.

Generasi demi generasi telah melewati kelasnya.

Tulisan tangannya di papan tulis selalu rapi.
Penjelasannya sistematis.
Disiplinnya dikenal tegas.

Ia bukan guru yang tertinggal.

Setidaknya… dulu.

“Silakan Bapak/Ibu mencoba membuat kelas di aplikasi ini,” suara narasumber terdengar jelas.

Beberapa guru langsung mencoba.
Ada yang berhasil. Ada yang kebingungan.

Tawa kecil mulai terdengar di beberapa sudut.

Saya kembali melirik ke arah Bu Retno.

Ia masih diam.

Kursor di layarnya berkedip.
Kosong.

Saya mendekat perlahan.

“Bu Retno, bagaimana?”

Ia sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis.

“Masih mencoba, Pak…”

Jawaban yang sopan. Tapi tidak jujur sepenuhnya.

Saya tahu.

“Bagian mana yang sulit, Bu?”

Ia menatap layar, lalu berkata pelan,

“Saya… takut salah.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa, terasa berat keluar dari seorang guru yang selama ini selalu terlihat yakin.

Saya tidak langsung menjawab.

Karena saya sadar, yang ia hadapi bukan sekadar tombol dan aplikasi.

Tapi perasaan.

Pelatihan hari itu berjalan sampai siang.

Sebagian guru mulai terbiasa.
Sebagian masih bertanya-tanya.

Dan Bu Retno… hanya berhasil sampai langkah kedua.

Tidak lebih.

Sore harinya, ketika aula sudah sepi, saya melihat Bu Retno masih duduk di sana.

Laptopnya masih terbuka.

Saya menghampiri.

“Belum pulang, Bu?”

Ia menggeleng pelan.

“Masih ingin mencoba.”

Saya duduk di sampingnya.

Beberapa detik hening.

Lalu ia berkata, tanpa menatap saya,

“Pak… boleh saya jujur?”

“Tentu.”

Ia menarik napas panjang.

“Saya merasa… mulai tertinggal.”

Kalimat itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan.

Saya diam.

Ia melanjutkan,

“Dulu, saya selalu percaya diri masuk kelas. Apa yang saya jelaskan, saya kuasai.”

Tangannya menunjuk ke laptop.

“Sekarang… hal seperti ini saja saya bingung.”

Ia tersenyum pahit.

“Saya takut… suatu saat siswa lebih tahu daripada saya.”

Saya menatapnya.

“Itu bukan hal yang buruk, Bu.”

Ia menggeleng.

“Bagi saya… itu menakutkan.”

Ia akhirnya menoleh.

“Bagaimana kalau saya tidak lagi dibutuhkan, Pak?”

Pertanyaan itu tidak sederhana.

Dan tidak bisa dijawab dengan kalimat motivasi biasa.

Saya menggeser posisi duduk, menghadapnya lebih jelas.

“Bu Retno” saya mulai pelan,
“Ibu tahu kenapa siswa menghormati Ibu selama ini?”

Ia tidak menjawab.

“Bukan karena Ibu paling cepat belajar teknologi.”

Saya berhenti sejenak.

“Tapi karena Ibu konsisten. Tegas. Dan peduli.”

Ia diam.

“Teknologi itu alat, Bu. Bisa dipelajari. Bahkan oleh siapa pun.”

Saya menatapnya.

“Tapi pengalaman… tidak bisa digantikan.”

Ia menunduk.

Masih ragu.

Wajar.

Karena rasa takut tidak hilang hanya dengan satu percakapan.

Keesokan harinya, saya sengaja mengunjungi kelas Bu Retno.

Ia masih mengajar seperti biasa.

Menggunakan papan tulis. Spidol. Buku paket.

Dan kelasnya… tetap tertib.

Siswa mendengarkan.

Beberapa bahkan mencatat dengan serius.

Tidak ada yang berubah.

Dan di situlah saya melihat, yang berubah sebenarnya bukan kemampuannya.

Tapi cara ia melihat dirinya sendiri.

Beberapa hari kemudian, saya mengajaknya ke ruang komputer.

“Bu, kita coba lagi. Pelan-pelan.”

Ia terlihat ragu.

“Saya takut lama, Pak…”

“Saya juga tidak sedang buru-buru.”

Kami duduk berdampingan.

Saya tidak mengambil alih.

Saya hanya mengarahkan.

“Klik yang ini, Bu.”

Ia mencoba. Pelan. Hati-hati.

Salah.

Ia langsung berhenti.

“Tidak apa-apa, Bu. Kita ulang.”

Ia menarik napas.

Mencoba lagi.

Kali ini berhasil.

Wajahnya berubah sedikit.

Ada rasa lega.

Kecil. Tapi nyata.

Hari-hari berikutnya, proses itu terus berulang.

Lambat.

Kadang maju, kadang mundur.

Kadang ia lupa langkah yang kemarin sudah bisa.

Kadang ia terlihat kesal pada dirinya sendiri.

“Tadi sudah bisa, sekarang lupa lagi…”

Saya hanya tersenyum.

“Artinya Ibu sedang belajar.”

Suatu hari, ia datang ke ruang saya dengan wajah berbeda.

Lebih cerah.

“Pak… saya berhasil kirim tugas ke siswa lewat aplikasi itu.”

Saya tersenyum lebar.

“Wah, luar biasa, Bu.”

Ia tertawa kecil.

“Masih dibantu anak saya di rumah sih…”

“Tidak apa-apa. Yang penting Ibu mencoba.”

Ia mengangguk.

Dan hari itu, saya melihat sesuatu yang tidak saya lihat sebelumnya, kepercayaan diri yang mulai kembali.

Beberapa minggu setelah pelatihan, perubahan itu mulai terasa.

Tidak drastis.

Bu Retno masih menggunakan papan tulis.

Masih mengajar dengan gaya lamanya.

Tapi sesekali, ia membuka laptop.

Menampilkan materi.

Memberi tugas secara digital.

Tidak sempurna.

Tapi cukup.

Dan yang paling penting, ia tidak lagi takut.

Suatu sore, kami duduk di bangku depan sekolah.

Angin berhembus pelan. Siswa sudah pulang.

“Pak,” ia berkata,
“ternyata… belajar di usia seperti saya ini tidak mudah.”

Saya tersenyum.

“Tapi mungkin itu yang membuatnya berarti.”

Ia mengangguk pelan.

“Dulu saya pikir, saya harus bisa seperti guru muda.”

Ia menatap ke halaman.

“Sekarang saya sadar… saya hanya perlu tetap belajar.”

Saya menepuk bahunya.

“Itu sudah lebih dari cukup, BU.”

Hari itu, saya belajar lagi…

Yang paling berat bagi guru senior bukan belajar hal baru.

Tapi melawan rasa takut bahwa dirinya sudah tidak lagi relevan.

Padahal kenyataannya…

Sekolah tidak butuh guru yang selalu paling baru.

Sekolah butuh guru yang tidak berhenti bertumbuh.

Dan Bu Retno memilih itu.

Bukan dengan langkah besar.

Tapi dengan keberanian kecil… yang dilakukan setiap hari.

Catatan Kang Surya

Related posts

Ayah, yang Tidak Pernah Berhenti Mengajar

Surya

Guncang Brebes! Pasukan IKABA SMPN 1 Ciawigebang Sapu Bersih LKBB, Bawa Pulang 7 Trofi Sekaligus!

Surya

Disdikbud Kuningan Dukung Program DMI, Ajak Ribuan Siswa Ikuti Shalat Subuh Berjamaah Serentak

Surya

Leave a Comment