Pagi itu, ruang guru belum sepenuhnya ramai ketika Bu Sari sudah duduk di kursinya.
Tasnya sudah terbuka. Buku-buku sudah tersusun. Daftar hadir sudah siap.
Seperti biasa.
Ia termasuk guru yang tidak pernah setengah-setengah.
Kalau mengajar, ia hadir utuh.
Kalau membantu, ia tidak memilih.
Kalau peduli… ia memberi tanpa hitungan.
Dan mungkin, di situlah awal dari semuanya.
“Bu Sari, nanti bisa bantu saya di kelas ya? Anak-anak agak sulit dikendalikan.”
“Bu, saya titip siswa ini ya, ada masalah di rumah…”
“Bu, bisa dampingi lomba minggu depan?”
Permintaan datang hampir setiap hari.
Dan hampir selalu, jawabannya sama.
“Iya.”
Tanpa jeda. Tanpa pertimbangan panjang.
Seolah kata “tidak” tidak pernah menjadi bagian dari kosakatanya.
Saya sering memperhatikannya dari jauh.
Di sela jam istirahat, ia jarang benar-benar istirahat.
Selalu ada siswa di sekitarnya.
Ada yang curhat.
Ada yang meminta penjelasan ulang.
Ada yang sekadar ingin didengar.
Dan Bu Sari… selalu ada.
Duduk sedikit lebih dekat.
Mendengarkan sedikit lebih lama.
Memberi perhatian yang kadang bahkan tidak diminta.
Suatu siang, saya melihatnya di sudut kantin.
Ia tidak makan.
Hanya duduk, menghadap seorang siswa perempuan yang terlihat murung.
“Tidak apa-apa kalau kamu belum siap cerita,” katanya pelan.
“Ibu di sini saja.”
Siswa itu akhirnya bercerita.
Panjang.
Tentang rumah yang tidak lagi terasa aman.
Tentang orang tua yang sering bertengkar.
Tentang rasa takut yang tidak punya tempat.
Bu Sari tidak memotong.
Ia hanya mendengarkan.
Sesekali mengangguk.
Sesekali menyentuh bahu siswa itu pelan.
Saya berdiri cukup jauh.
Tapi saya bisa melihat, ia benar-benar hadir.
Bukan sebagai guru.
Tapi sebagai seseorang yang peduli.
Hari-hari berjalan seperti itu.
Dan pelan-pelan, tanpa banyak yang sadar, beban itu menumpuk.
Tidak terlihat.
Tidak tercatat.
Tapi ada.
Suatu pagi, saya menerima laporan bahwa Bu Sari izin tidak masuk.
Hal yang jarang sekali terjadi.
Awalnya saya pikir hanya sakit ringan.
Tapi hari kedua, ia masih belum masuk.
Hari ketiga, saya mulai merasa ada yang tidak biasa.
Saya memutuskan untuk mengunjunginya.
Rumahnya sederhana. Tenang. Terlalu tenang.
Ia membuka pintu dengan wajah pucat.
“Maaf, Pak… jadi merepotkan.”
Kalimat pertama yang keluar justru itu.
Saya menggeleng pelan.
“Bagaimana kondisi Ibu?”
Ia tersenyum kecil.
“Cuma capek, Pak.”
Jawaban yang sering kita dengar.
Tapi jarang kita pahami.
Kami duduk di ruang tamu.
Beberapa detik hening.
Lalu saya berkata pelan,
“Capek yang seperti apa, Bu?”
Ia terdiam.
Seperti sedang mencari kata yang tepat.
“Atau… capek yang sudah lama?”
Ia menunduk.
Dan tanpa saya duga, air matanya jatuh.
Pelan.
“Pak… saya pikir selama ini saya kuat.”
Saya tidak menyela.
Ia melanjutkan,
“Saya ingin membantu semua siswa. Saya tidak tega melihat mereka sendirian.”
Tangannya saling menggenggam.
“Tapi… lama-lama saya merasa kosong.”
Kalimat itu lirih.
Tapi tajam.
“Saya pulang ke rumah, tapi pikiran masih di sekolah. Saya ingin istirahat… tapi rasanya bersalah kalau tidak memikirkan mereka.”
Ia menarik napas panjang.
“Pak… saya lelah. Tapi saya tidak tahu bagaimana berhenti.”
Saya terdiam.
Karena ini bukan tentang pekerjaan.
Ini tentang batas yang tidak pernah dibuat.
“Bu Sari,” saya berkata pelan,
“selama ini Ibu membantu banyak orang.”
Ia mengangguk.
“Tapi siapa yang membantu Ibu?”
Ia tidak menjawab.
Karena mungkin… tidak ada.
Saya melanjutkan,
“Peduli itu baik, Bu. Sangat baik.”
Saya berhenti sejenak.
“Tapi kalau sampai menghabiskan diri sendiri… itu bukan lagi kepedulian.”
Ia menatap saya.
Matanya lelah.
“Lalu saya harus bagaimana, Pak? Masa saya biarkan mereka?”
Pertanyaan itu jujur.
Dan sulit.
Saya tidak langsung menjawab.
Karena ini bukan tentang benar atau salah.
Ini tentang keseimbangan.
“Bantu mereka, Bu. Tapi jangan sendiri.”
Ia mengernyit.
“Maksudnya?”
“Libatkan guru lain. Libatkan BK. Jangan semua Ibu tanggung sendiri.”
Saya menatapnya.
“Dan yang paling penting… beri waktu untuk diri sendiri.”
Ia tersenyum pahit.
“Saya tidak terbiasa, Pak…”
“Saya tahu.”
Beberapa hari setelah itu, Bu Sari kembali ke sekolah.
Langkahnya masih pelan.
Wajahnya belum sepenuhnya segar.
Tapi ia datang.
Dan itu sudah langkah besar.
Perubahan tidak langsung terlihat.
Ia masih peduli. Masih membantu.
Tapi ada yang mulai berbeda.
Suatu siang, seorang siswa datang padanya.
Biasanya, ia akan langsung duduk dan mendengarkan lama.
Tapi hari itu, ia berkata pelan,
“Kita ngobrol sebentar ya. Nanti Ibu bantu kamu ketemu guru BK juga.”
Langkah kecil.
Tapi penting.
Di ruang guru, saya melihatnya sesekali benar-benar istirahat.
Duduk tanpa membuka buku.
Tanpa berbicara dengan siapa pun.
Hanya diam.
Dan kali ini… bukan karena lelah yang terpendam.
Tapi karena memberi ruang pada dirinya sendiri.
Suatu sore, kami duduk di bangku depan sekolah.
Seperti biasa, setelah siswa pulang.
“Pak…” katanya pelan,
“ternyata menjaga diri sendiri itu tidak egois, ya.”
Saya tersenyum.
“Bukan egois. Itu perlu.”
Ia mengangguk.
“Saya baru sadar… kalau saya terus seperti kemarin, saya mungkin tetap membantu… tapi tidak akan lama.”
Saya menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya, saya melihat—
ia tidak hanya peduli pada orang lain.
Tapi juga mulai peduli pada dirinya sendiri.
Hari itu, saya belajar lagi.
Tidak semua pengorbanan itu benar.
Ada yang terlihat mulia…tapi diam-diam mengikis diri.
Guru memang dipanggil untuk peduli.
Tapi bukan untuk kehilangan diri sendiri.
Karena guru yang terus memberi tanpa pernah mengisi ulang dirinya…pada akhirnya bukan menjadi kuat.
Tapi habis.
Dan sejak itu, saya mengingatkan diri sendiri
Tugas saya bukan hanya memastikan guru bekerja dengan baik.
Tapi juga memastikan mereka tetap utuh.
Karena sekolah tidak hanya butuh guru yang peduli.
Sekolah butuh guru yang bisa bertahan.
Coretan Kang Surya
