Tidak semua guru dikenang karena prestasi.
Tidak semua guru dikenal karena penghargaan.
Sebagian… hanya hadir. Setiap hari. Tanpa banyak bicara.
Dan justru itu yang membuatnya berarti.
Pak Jaja adalah salah satunya.
Ia tidak pernah ikut lomba.
Tidak pernah tampil di panggung.
Tidak pernah disebut dalam rapat sebagai “guru teladan”.
Ia hanya mengajar.
Datang. Masuk kelas. Menjelaskan. Pulang.
Sederhana.
Hampir terlalu sederhana untuk diperhatikan.
Saya jarang melihatnya berbicara panjang di ruang guru.
Kalau pun ada, hanya seperlunya.
Lebih sering ia duduk, membuka buku, atau menyiapkan materi.
Beberapa orang mungkin menganggapnya biasa saja.
Tidak menonjol.
Tidak istimewa.
Dan mungkin… saya pun pernah berpikir begitu.
Sampai suatu hari, ia tidak masuk.
Hari pertama, tidak ada yang terlalu terasa.
Kelas tetap berjalan. Guru pengganti masuk.
Semua tampak normal.
Hari kedua, mulai ada yang berbeda.
Beberapa siswa bertanya,
“Pak Jaja ke mana, Pak?”
“Sakit,” jawab saya singkat.
Mereka mengangguk.
Hari ketiga.
Seorang siswa datang ke ruang saya.
“Pak… kapan Pak Jaja masuk lagi?”
Saya menatapnya.
“Kenapa?”
Ia terdiam sebentar, lalu berkata pelan,
“Kalau beliau tidak ada… rasanya beda, Pak.”
Saya mulai memperhatikan.
Di kelas yang biasa diajar Pak Jaja, suasana memang berjalan.
Tapi tidak sama.
Penjelasan tetap ada.
Materi tetap tersampaikan.
Tapi… ada yang hilang.
Tidak terlihat. Tapi terasa.
Beberapa siswa mulai bercerita.
“Pak Jaja itu kalau ngajarin pelan, Pak. Jadi saya ngerti.”
“Kalau saya salah, beliau tidak marah. Cuma bilang, ‘coba lagi’.”
“Saya berani tanya kalau ke Pak Jaja…”
Kalimat-kalimat sederhana.
Tapi jujur.
Dan dari situ saya sadar, yang selama ini dianggap biasa… ternyata luar biasa dalam diam.
Beberapa hari kemudian, saya menjenguknya.
Rumahnya tidak besar. Tenang.
Ia terlihat kaget ketika saya datang.
“Maaf, Pak… jadi merepotkan.”
Kalimat yang hampir selalu sama dari guru-guru yang tidak ingin dianggap beban.
“Bagaimana kondisi, Pak?”
“Sudah mendingan, Pak. Tinggal pemulihan.”
Kami duduk.
Saya tidak langsung bicara banyak.
Lalu saya berkata pelan,
“Sekolah terasa sepi, Pak.”
Ia tersenyum kecil.
“Ah, biasa saja, Pak…”
Saya menggeleng.
“Tidak biasa.”
Ia menatap saya, sedikit bingung.
“Siswa banyak yang menanyakan Bapak.”
Ia terdiam.
Seperti tidak menyangka.
“Pak Jaja,” saya melanjutkan,
“Bapak mungkin tidak pernah berdiri di panggung.”
Saya berhenti sejenak.
“Tapi Bapak ada di hati banyak siswa.”
Matanya sedikit berkaca.
Ia menunduk.
“Saya hanya mengajar, Pak…”
Saya tersenyum.
“Dan kadang, itu lebih dari cukup.”
Beberapa hari kemudian, ia kembali ke sekolah.
Tidak ada penyambutan besar.
Tidak ada tepuk tangan.
Ia hanya berjalan seperti biasa, masuk ke kelasnya.
Tapi di dalam kelas, siswa-siswa tersenyum lebih lebar.
Lebih siap.
Lebih… hangat.
Hari itu, saya belajar lagi…
Tidak semua yang hebat itu terlihat.
Ada yang bekerja dalam diam,
tapi meninggalkan jejak yang dalam.
Dan guru seperti itu, tidak akan ramai saat hadir.
Tapi sangat terasa… saat tidak ada.
Coretan Kang Surya
