Hari itu dimulai seperti biasa.
Absensi dibuka. Nama dipanggil satu per satu.
“Hadir.”
“Hadir.”
“Hadir.”
Sampai satu nama disebut.
Diam.
“Tidak masuk, Pak,” kata ketua kelas.
Tidak ada yang terlalu memikirkan. Satu siswa tidak masuk bukan hal baru.
Mungkin sakit.
Mungkin izin.
Mungkin hanya tidak ingin datang.
Hari itu berlalu.
Besoknya, nama itu dipanggil lagi.
Diam.
Hari ketiga, masih sama.
Guru mulai bertanya.
“Sudah ada kabar?”
Tidak ada.
Teman-temannya mulai merasa aneh.
Biasanya ia tidak pernah absen lama.
Kepala sekolah akhirnya meminta guru mencari tahu.
Alamat dicatat.
Beberapa orang datang ke rumahnya.
Pintu tertutup.
Tetangga yang menjawab.
“Sudah pindah.”
Jawaban singkat.
Tanpa penjelasan.
Tidak ada surat.
Tidak ada pemberitahuan.
Seolah-olah, siswa itu tidak pernah ada.
Di sekolah, namanya masih ada di daftar.
Masih tercatat di buku induk.
Tapi kursinya kosong.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Pelajaran tetap berlangsung.
Absensi tetap dibuka.
Nama itu perlahan tidak lagi dipanggil.
Bukan karena sudah jelas.
Tapi karena sudah terbiasa.
Kepala sekolah melihat daftar siswa itu suatu sore.
Ia tahu, di balik satu nama yang hilang, ada cerita yang tidak pernah selesai.
Mungkin tentang keluarga.
Mungkin tentang ekonomi.
Mungkin tentang sesuatu yang tidak sempat disampaikan.
Tapi sistem tidak mencatat itu.
Sistem hanya tahu: hadir atau tidak.
Dan jika terlalu lama tidak hadir, maka dianggap selesai.
Padahal, tidak semua yang hilang berarti sudah pergi, sebagian hanya tidak lagi punya tempat untuk kembali.
April 2024 – Kang Surya
