Kang Surya
CoretanTerbaru

Rumah yang Tidak Pernah Pindah

Aku sering ditanya, dari mana aku mendapatkan tenaga untuk berjalan sejauh ini.

Pertanyaan itu biasanya datang setelah rapat panjang, setelah keputusan-keputusan yang tidak mudah, atau setelah orang melihat daftar panjang perjalanan hidupku di dunia pendidikan. Mereka mengira jawabannya ada pada jabatan, pengalaman, atau mungkin jaringan yang luas.

Padahal, jawabannya sederhana.

Aku pulang.

Selalu begitu.

Rumahku tidak besar. Tidak pernah berubah sejak dulu, setidaknya tidak dalam hal yang paling penting. Di dalamnya ada suara yang sama: suara seseorang yang menunggu.

Tati.

Ia tidak pernah banyak bicara soal pekerjaanku. Tidak pernah menuntut aku menjadi sesuatu yang lebih dari diriku sendiri. Tapi dari caranya menyuguhkan teh hangat setiap malam, dari caranya bertanya pelan, “Capek?” aku tahu, ia memahami lebih dari yang pernah aku ceritakan.

Kadang aku pulang dengan kepala penuh. Penuh masalah sekolah, penuh laporan, penuh harapan orang-orang yang terasa berat di pundak. Tapi begitu duduk di ruang tengah, semuanya seperti perlahan turun.

Bukan hilang. Tapi menjadi lebih ringan.

Karena aku tidak sendirian.

Aku ingat ketika anak-anakku masih kecil.

Fajar dan Bintang.

Mereka pernah bertanya sesuatu yang sederhana, tapi sampai hari ini tidak pernah benar-benar bisa aku jawab dengan tuntas.

“Ayah kerja apa?”

Aku terdiam waktu itu. Aku bisa saja menjawab, “Ayah guru,” atau “Ayah kepala sekolah.” Tapi rasanya itu tidak cukup.

Karena pekerjaanku bukan hanya tentang mengajar, atau memimpin.

Pekerjaanku adalah tentang percaya.

Percaya bahwa setiap anak punya masa depan. Percaya bahwa setiap sekolah bisa menjadi tempat yang lebih baik. Percaya bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap berarti.

Akhirnya aku hanya menjawab, “Ayah bekerja supaya anak-anak lain bisa sekolah dengan baik.”

Mereka mengangguk. Mungkin belum sepenuhnya paham. Tapi hari itu, aku belajar sesuatu bahwa penjelasan paling jujur tidak selalu yang paling lengkap.

Waktu berjalan cepat.

Anak-anak itu kini tumbuh. Mereka tidak lagi bertanya hal-hal sederhana. Mereka punya dunia sendiri, mimpi sendiri, dan jalan yang mulai mereka tentukan.

Kadang aku duduk sendiri di ruang tamu, melihat foto-foto lama. Wajah-wajah kecil yang dulu sering menungguku pulang.

Ada rasa yang sulit dijelaskan.

Bangga, tentu.

Tapi juga ada sedikit sesal.

Tentang waktu-waktu yang mungkin terlewat. Tentang momen-momen kecil yang tidak sempat aku hadir sepenuhnya.

Namun Tati selalu punya cara untuk menenangkan itu.

“Kamu tidak pernah benar-benar pergi,” katanya suatu malam.

Aku menatapnya, tidak langsung mengerti.

“Kamu selalu pulang,” lanjutnya.

Dan mungkin, di situlah letak jawabannya.

Aku belajar banyak hal dari sekolah, dari organisasi, dari kehidupan publik. Tapi pelajaran paling penting justru datang dari rumah.

Tentang sabar yang tidak bersuara.

Tentang cinta yang tidak menuntut.

Tentang kehadiran yang tidak selalu harus sempurna, tapi selalu diusahakan.

Rumah tidak pernah menuntut aku menjadi hebat.

Rumah hanya memintaku untuk tetap menjadi manusia.

Sekarang, ketika orang-orang kembali bertanya tentang langkahku ke depan, tentang jabatan, tentang rencana besar, aku tidak lagi mencari jawaban yang rumit.

Aku hanya tahu satu hal, selama aku masih punya tempat untuk pulang, aku tidak akan pernah benar-benar lelah berjalan.

Karena di sanalah aku diingatkan bahwa semua yang aku lakukan di luar sana, pada akhirnya, berawal dan kembali ke satu hal yang sama:

Keluarga.

Coretan Kang Surya

Related posts

Menjelang TKA 2026 di Kabupaten Kuningan

Surya

Guru yang Mengajar dengan Luka yang Tidak Terlihat

Surya

Disdikbud Kuningan Dukung Program DMI, Ajak Ribuan Siswa Ikuti Shalat Subuh Berjamaah Serentak

Surya

Leave a Comment