Pagi ini terasa beda.
Bukan karena matahari yang lain, bukan juga karena angin yang lebih pelan.
Tapi karena ada yang berangkat… dan hati ikut tertinggal di halaman rumah.
Sutarman… dan Susi.
Sepasang suami istri.
Dan Susi itu… bukan sekadar ipar.
Ia adik kandung dari istriku.
Tapi dalam perjalanan waktu, hubungan itu tak lagi butuh istilah.
Ia sudah seperti adik sendiri.
Hari ini mereka berangkat haji.
Ada rasa yang sulit dijelaskan.
Antara bangga… haru… dan sedikit kehilangan yang diam-diam.
Aku dan istriku berdiri di dekat pintu.
Melihat koper yang sudah siap.
Melihat wajah-wajah yang berusaha tenang.
Aku tahu… ini bukan perjalanan biasa.
Ini bukan sekadar pergi jauh.
Ini tentang panggilan.
Dan tidak semua orang dipanggil.
Aku sempat berpikir…
siapa aku sampai harus memberi nasihat?
Sementara mereka yang hari ini berangkat, justru sedang menuju tempat paling suci untuk belajar tentang hidup.
Tapi sebagai kakak…
aku tetap ingin bilang sesuatu.
“Jaga niat… jaga hati…”
Kalimat sederhana.
Tapi justru itu yang paling sulit.
Karena haji bukan soal sampai di sana.
Bukan soal pakaian putih.
Bukan soal gelar di belakang nama.
Haji itu tentang pulang…dengan hati yang berbeda.
Aku titip satu hal yang mungkin klise, tapi selalu terasa penting.
“Nanti kalau sudah di depan Ka’bah… jangan lupa sebut nama kami…”
Bukan karena kami ingin dibanggakan.
Tapi karena kami juga ingin ikut hadir… meski hanya lewat doa.
Susi menunduk.
Air matanya jatuh.
Aku tahu, di balik tangis itu ada banyak hal:
rindu yang belum terjadi, takut yang disembunyikan, dan harapan yang dititipkan.
Aku tidak banyak bicara lagi.
Karena pada akhirnya…yang paling kuat itu bukan kata-kata, tapi doa yang tidak terdengar.
Mobil itu akhirnya berangkat.
Aku tidak melambaikan tangan berlebihan.
Tidak juga memanggil.
Cukup melihat… sampai hilang di tikungan.
Dan setelah itu… baru terasa.
Sepi.
Tapi bukan sepi yang kosong.
Sepi yang penuh.
Aku menengadah.
“Ya Allah… Engkau yang memanggil mereka. Maka jagalah mereka…”
Aku tidak minta mereka pulang membawa cerita.
Tidak juga minta oleh-oleh.
Aku hanya minta satu hal
Pulanglah nanti…sebagai hamba yang lebih lembut hatinya, lebih jujur dalam hidupnya, lebih sederhana dalam melihat dunia.
Karena kalau haji hanya menambah gelar…itu terlalu kecil untuk perjalanan sejauh itu.
Biarlah haji itu hidup dalam sikap.
Dalam cara mereka memaafkan.
Dalam cara mereka mencintai.
Dan kalau suatu hari nanti aku dipanggil juga…
Semoga aku ingat pagi ini.
Pagi ketika aku belajar bahwa melepas itu bukan kehilangan.
Tapi cara lain…untuk menanam doa.
26 April 2026
Coretan Pagi Kang Surya
