Kang Surya
CerpenTerbaru

Guru Honorer yang Mengajar dengan Sisa Harapan

Pagi itu, gerbang sekolah masih setengah terbuka ketika Pak Dedi sudah berdiri di depannya.

Langit belum sepenuhnya terang. Udara masih menyisakan dingin yang enggan pergi. Beberapa siswa yang datang lebih awal berjalan pelan, sebagian masih mengantuk, sebagian lagi sibuk dengan gawainya.

Pak Dedi menyapa mereka satu per satu.

“Pagi, Nak.”

Senyumnya sama seperti biasanya hangat, tidak dibuat-buat.

Kalau dilihat sepintas, tidak ada yang berbeda dari dirinya. Kemeja rapi, meski warnanya mulai pudar. Sepatu hitam yang sudah beberapa kali dijahit ulang. Tas kerja yang sedikit mengelupas di bagian sudut.

Sederhana.

Terlalu sederhana untuk seseorang yang memikul tanggung jawab besar sebagai pendidik.

Saya memperhatikannya dari kejauhan.

Sebagai kepala sekolah, saya sering datang lebih awal. Bukan untuk mengawasi, tapi untuk melihat hal-hal kecil yang sering luput dari laporan.

Dan Pak Dedi… selalu ada di sana.

Selalu lebih dulu.

Bukan sekali dua kali saya bertanya dalam hati, apa yang membuatnya tetap setia?

Hari itu, saya memutuskan untuk mendekat.

“Pagi, Pak Dedi.”

Ia menoleh cepat, sedikit kaget, lalu tersenyum.

“Pagi, Pak.”

“Kok sudah datang lagi sepagi ini?”

Ia menggaruk kepalanya pelan, seperti orang yang tidak terbiasa menjelaskan dirinya sendiri.

“Ya… biasa saja, Pak. Daripada di rumah.”

Jawaban yang ringan. Terlalu ringan.

Saya tidak melanjutkan pertanyaan.

Karena sering kali, jawaban sederhana justru menyimpan cerita panjang.

Jam pertama dimulai.

Saya sempat masuk ke kelas yang diajar Pak Dedi. Bukan untuk supervisi formal. Hanya ingin melihat.

Di dalam kelas, suasana hidup.

Bukan karena metode yang canggih. Bukan juga karena alat peraga modern.

Tapi karena kehadiran.

Pak Dedi berdiri di depan, menjelaskan materi dengan cara yang sederhana, kadang diselipi humor kecil yang membuat siswa tertawa.

“Kalau kamu tidak paham sekarang, tidak apa-apa,” katanya pada seorang siswa.
“Yang penting jangan pura-pura paham. Itu lebih bahaya.”

Kelas tertawa kecil.

Saya ikut tersenyum.

Ada kejujuran di sana. Ada kedekatan yang tidak dibuat-buat.

Siswa-siswa mendengarkan.

Bukan karena takut.
Tapi karena merasa dihargai.

Dan itu… tidak semua guru punya.

Istirahat siang, saya melihat Pak Dedi duduk di kantin.

Bukan di meja guru.

Ia duduk bersama beberapa siswa. Makan sederhana, nasi dengan lauk seadanya.

Saya tidak langsung mendekat.

Saya memperhatikan.

Salah satu siswa bercerita tentang masalahnya di rumah. Pak Dedi mendengarkan dengan serius. Sesekali mengangguk. Tidak memotong.

Tidak menggurui.

Hanya hadir.

Di situlah saya sadar, perannya bukan hanya mengajar pelajaran.

Tapi menjadi tempat pulang bagi beberapa anak yang mungkin tidak punya tempat bercerita.

Sore hari, ketika sebagian guru sudah pulang, Pak Dedi masih di sekolah.

Ia sedang membantu beberapa siswa yang belum paham materi.

Tidak ada tambahan honor.
Tidak ada perintah.

Hanya inisiatif.

Saya akhirnya mendekat.

“Pak Dedi, sebentar?”

Ia menoleh, lalu meminta izin pada siswa untuk keluar sejenak.

Kami duduk di bangku panjang depan kelas.

Beberapa detik hening.

Saya menatapnya.

“Pak, saya mau tanya sesuatu.”

“Iya, Pak.”

“Kenapa masih bertahan?”

Ia tidak langsung menjawab.

Matanya menatap ke halaman sekolah. Ke arah siswa-siswa yang masih bermain.

Angin sore berhembus pelan.

“Jujur saja, Pak,” ia mulai pelan,
“pernah kepikiran berhenti.”

Saya diam. Memberi ruang.

“Gaji kecil. Kadang telat. Kebutuhan di rumah jalan terus.”

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti menerima.

“Motor saya sering mogok. Anak saya mulai sekolah. Istri juga kadang bertanya…”

Kalimatnya menggantung.

Saya bisa menebak sisanya.

“Lalu kenapa tidak jadi berhenti?” saya bertanya pelan.

Ia menarik napas panjang.

“Karena setiap kali saya mau pergi… ada satu hal yang menahan.”

“Apa itu?”

Ia menoleh ke arah kelas.

“Anak-anak itu, Pak.”

Saya mengikuti arah pandangnya.

“Kalau saya pergi… siapa yang akan tetap percaya bahwa mereka bisa?”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa, terasa berat.

Saya tidak langsung menjawab.

Karena saya tahu—itu bukan kalimat yang lahir dari logika.

Itu lahir dari kepedulian.

Dari keterikatan.

Dari sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Beberapa minggu setelah itu, saya menerima laporan bahwa Pak Dedi sempat tidak masuk dua hari.

Jarang sekali itu terjadi.

Saya memutuskan untuk mengunjunginya.

Rumahnya tidak besar. Sederhana. Terletak di gang kecil.

Ia terlihat kaget ketika saya datang.

“Maaf, Pak… saya tidak sempat memberi kabar.”

“Sakit?”

Ia menggeleng.

“Anak saya demam tinggi.”

Saya mengangguk.

Di dalam rumah, saya melihat anaknya terbaring. Istrinya menyapa dengan ramah, meski terlihat lelah.

Saya tidak banyak bicara.

Hanya memastikan semuanya baik-baik saja.

Sebelum pulang, saya berkata,

“Pak Dedi, kalau butuh bantuan, bilang.”

Ia tersenyum.

“Iya, Pak. Terima kasih.”

Keesokan harinya, Pak Dedi sudah kembali ke sekolah.

Seperti biasa.

Menyapa siswa. Mengajar. Tersenyum.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Dan di situlah saya belajar lagi….

Banyak guru datang ke sekolah bukan karena semuanya baik-baik saja.

Tapi karena mereka memilih untuk tetap datang.

Sejak hari itu, saya mengubah cara saya melihat.

Tidak semua guru bisa diukur dengan angka kinerja.

Tidak semua pengabdian terlihat di laporan.

Ada yang bekerja dalam diam.
Ada yang bertahan dalam keterbatasan.
Ada yang memberi… bahkan saat dirinya sendiri kekurangan.

Dan Pak Dedi adalah salah satunya.

Suatu pagi, saya kembali melihatnya berdiri di gerbang.

Seperti biasa.

Menyapa siswa satu per satu.

Saya menghampirinya.

“Pagi, Pak Dedi.”

“Pagi, Pak.”

Saya menepuk bahunya pelan.

“Terima kasih.”

Ia terlihat bingung.

“Untuk apa, Pak?”

Saya tersenyum.

“Untuk tetap bertahan.”

Ia tidak menjawab.

Hanya tersenyum.

Dan pagi itu, saya sadar..

Sekolah ini mungkin berdiri karena sistem.

Tapi tetap hidup… karena orang-orang seperti Pak Dedi.

Coretan Kang Surya

Related posts

Kursi di Sudut Kelas

Surya

Guru yang Pernah Gagal, Tapi Memilih Bangkit

Surya

Disdikbud Kuningan Sambut Konsolnas 2026, Surya: Ini Momentum Menyelaraskan Program Pusat dan Daerah

Surya

Leave a Comment