Kang Surya
CerpenTerbaru

Guru yang Pernah Gagal, Tapi Memilih Bangkit

Tidak semua perjalanan guru itu lurus.

Ada yang sempat jatuh.

Dan tidak semua berani kembali.

Pak Arif pernah menjadi pembicaraan.

Bukan karena prestasi.

Tapi karena kesalahan.

Cukup besar hingga membuatnya mundur dari kelas untuk sementara waktu.

Tidak banyak yang tahu detailnya.

Tapi semua tahu, ia pernah jatuh.

Beberapa bulan, ia tidak terlihat.

Namanya masih ada. Tapi kehadirannya tidak.

Dan di dunia pendidikan, ketidakhadiran sering kali diikuti dengan penilaian.

Diam-diam.

Suatu hari, ia kembali.

Langkahnya pelan.

Tidak seperti dulu.

Tidak banyak menyapa.

Hanya masuk, duduk, dan menyiapkan diri.

Saya memanggilnya ke ruang saya.

Ia duduk dengan tubuh sedikit kaku.

Seperti siap menerima penilaian.

“Saya takut, Pak,” katanya sebelum saya bicara.

Saya menatapnya.

“Takut apa?”

“Takut tidak dipercaya lagi.”

Kalimat itu jujur.

Dan berat.

Saya tidak langsung menjawab.

Saya tahu, kepercayaan memang tidak bisa dikembalikan dengan kata-kata.

Harus dengan waktu.

“Pak Arif,” saya berkata pelan,
“setiap orang bisa salah.”

Ia menunduk.

“Tapi tidak semua orang mau kembali dan memperbaiki.”

Ia mengangkat wajahnya sedikit.

“Saya tidak menjanjikan semuanya akan langsung seperti dulu.”

Saya berhenti sejenak.

“Tapi saya memberi kesempatan.”

Hari pertama ia kembali mengajar, suasana kelas canggung.

Siswa diam.

Tidak seperti biasanya.

Mungkin mereka juga mendengar.

Mungkin mereka juga menilai.

Pak Arif berdiri di depan kelas.

Tangannya sedikit gemetar.

Ia memulai dengan pelan,

“Kita mulai lagi dari awal, ya.”

Kalimat sederhana.

Tapi penuh makna.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Ia lebih hati-hati.
Lebih banyak diam.
Lebih sering mengecek ulang.

Tapi satu hal yang terlihat, ia tidak lari.

Perlahan, siswa mulai kembali bertanya.

Mulai kembali berinteraksi.

Dan kepercayaan… sedikit demi sedikit kembali.

Suatu sore, ia datang ke ruang saya.

“Pak… terima kasih.”

Saya tersenyum.

“Untuk apa?”

“Untuk tidak langsung menutup pintu.”

Saya mengangguk.

Hari itu, saya belajar…..

Guru bukan manusia tanpa salah.

Mereka bisa jatuh.

Bisa gagal.

Tapi yang membedakan, apakah mereka memilih berhenti, atau bangkit.

Dan sekolah… seharusnya bukan tempat untuk menghakimi kesalahan.

Tapi tempat untuk memberi kesempatan kedua.

Coretan Kang Surya

Related posts

Disdikbud Kuningan Sambut Konsolnas 2026, Surya: Ini Momentum Menyelaraskan Program Pusat dan Daerah

Surya

Rumah yang Tidak Pernah Pindah

Surya

Guru yang Hampir Pensiun, Tapi Justru Paling Bersemangat

Surya

Leave a Comment