Kang Surya
CerpenTerbaru

Upacara yang Tidak Pernah Khidmat

Setiap hari Senin, sekolah berubah menjadi panggung.

Barisan siswa rapi. Guru berdiri tegak. Bendera dinaikkan dengan penuh hormat. Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.

Dari dalam, ceritanya berbeda.

Kepala sekolah berdiri di podium, memegang mikrofon. Ia sudah hafal susunan acara di luar kepala. Bahkan tanpa teks, ia bisa menyelesaikan amanat upacara dengan lancar.

“Disiplin adalah kunci keberhasilan,” katanya.

Di barisan belakang, beberapa siswa menunduk. Bukan karena khidmat, tapi karena mengantuk.

Di sisi kanan, seorang guru sibuk mengingatkan siswa yang tidak lurus barisannya. Di sisi kiri, ada yang diam-diam memeriksa ponsel.

Semua terlihat tertib. Tapi tidak ada yang benar-benar hadir.

Upacara selesai dengan tepuk tangan yang tidak terlalu yakin. Bendera sudah sampai di puncak. Lagu kebangsaan sudah dinyanyikan.

Tapi nilai yang diharapkan, entah sampai ke mana.

Suatu hari, kepala sekolah memutuskan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak memberikan amanat.

Sebaliknya, ia turun dari podium, berjalan mendekati barisan siswa.

“Siapa yang tahu kenapa kita harus upacara?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Beberapa siswa saling melirik. Seorang guru terlihat gelisah.

“Karena aturan, Pak,” jawab seorang siswa akhirnya.

Kepala sekolah tersenyum.
“Kalau tidak ada aturan?”

Diam.

Pertanyaan itu menggantung. Tidak nyaman. Tidak biasa.

Upacara hari itu berakhir lebih cepat. Tanpa amanat panjang. Tanpa kata-kata besar.

Tapi justru meninggalkan sesuatu yang berbeda, kebingungan.

Di ruang guru, beberapa orang mulai berbisik.

“Upacara kok jadi aneh begitu?”
“Nanti dikira tidak sesuai aturan.”

Kepala sekolah hanya duduk, mendengarkan.

Ia sadar, selama ini upacara bukan lagi tentang makna.
Ia hanya tentang kebiasaan yang tidak lagi dipertanyakan.

Dan mungkin, itu yang paling berbahaya.

Karena sesuatu yang dilakukan terus-menerus tanpa dipahami, lambat laun akan kehilangan arti dan hanya menyisakan gerakan tanpa jiwa.

Oleh : Kang Surya

Related posts

Guru yang Terlambat Bersinar

Surya

Bunda yang Menulis dengan Cinta

Surya

Suara yang Dipelankan

Surya

Leave a Comment