Kang Surya
CerpenTerbaru

Suara yang Dipelankan

Pak Dimas berdiri di depan kelas dengan spidol di tangan, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di papan tulis.

Di hadapannya, murid-murid kelas itu seperti biasa, ribut, saling melempar candaan, beberapa bahkan tidak peduli bahwa pelajaran sudah dimulai. Dulu, ia tahu harus berbuat apa.

Dulu, cukup satu ketukan penggaris di meja.

Atau satu teguran tegas dengan suara yang meninggi.

Dan kelas akan diam.

Tapi itu dulu.

Sekarang, setiap kali ia ingin bersikap tegas, ada satu bayangan yang selalu muncul—orang tua murid datang ke sekolah dengan wajah marah. Ancaman laporan. Kata-kata “hak anak” yang dilontarkan tanpa ruang dialog. Bahkan cerita guru yang berakhir di kantor polisi hanya karena dianggap “terlalu keras.”

Pak Dimas menarik napas panjang.

“Anak-anak…” suaranya pelan. Terlalu pelan, bahkan untuk mengalahkan suara mereka sendiri.

Tak ada yang benar-benar mendengarkan.

Di barisan belakang, Fajar tertawa keras, melempar kertas ke temannya. Kertas itu mengenai papan tulis.

Pak Dimas melihatnya.

Dulu, Fajar sudah pasti berdiri di depan kelas sekarang.

Tapi kali ini, Pak Dimas hanya diam.

Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan menulis.

Pelajaran hari itu selesai tanpa benar-benar dimulai.

Di ruang guru, Pak Dimas duduk sendirian.

“Apa gunanya jadi guru kalau tidak bisa mendidik?” gumamnya pelan.

Bu Ratna, yang duduk di sebelahnya, hanya tersenyum tipis. “Zaman sudah berubah, Pak.”

“Berubah… atau kita yang dipaksa diam?” jawab Pak Dimas.

Tidak ada jawaban.

Beberapa hari kemudian, sesuatu terjadi.

Fajar terlibat perkelahian di luar sekolah. Orang tuanya dipanggil. Suasana tegang. Semua guru memilih berhati-hati.

Pak Dimas diminta hadir.

Ia duduk berhadapan dengan Fajar dan ibunya. Wajah Fajar masih keras, seolah dunia selalu melawannya. Ibunya tampak lelah, tapi tetap memasang sikap defensif.

“Anak saya tidak mungkin mulai duluan,” katanya cepat.

Pak Dimas diam sejenak.

Ia tahu, ini titik yang menentukan.

Jika ia salah bicara, bisa panjang urusannya.

Jika ia terlalu lembut, Fajar tidak akan berubah.

Ia menarik napas.

“Bu,” katanya pelan, “saya tidak akan menghukum Fajar hari ini.”

Ibunya sedikit terkejut.

“Tapi saya ingin jujur. Di kelas, Fajar sering mencari perhatian dengan cara yang salah. Bukan karena dia anak nakal… tapi mungkin karena dia ingin dilihat.”

Fajar menoleh. Untuk pertama kalinya, matanya tidak menantang.

Pak Dimas melanjutkan, “Saya mungkin salah selama ini. Saya terlalu takut menegur. Takut dianggap keras. Jadi saya diam. Dan mungkin… diam saya justru membuat Fajar merasa tidak ada yang peduli.”

Ruangan itu sunyi.

Ibunya perlahan menunduk.

“Saya juga… jarang di rumah,” katanya lirih.

Pak Dimas tidak menyalahkan. Tidak menghakimi.

Ia hanya berkata, “Mari kita sama-sama mendidik. Saya di sekolah, Ibu di rumah. Tapi satu hal yang perlu kita sepakati… Fajar tetap butuh batas. Butuh ditegur. Dengan cara yang baik, tapi jelas.”

Fajar menunduk.

“Pak…” suaranya pelan, hampir tidak terdengar, “saya… cuma pengen diperhatiin.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk memecah semua ketegangan.

Hari berikutnya, Pak Dimas masuk kelas lagi.

Masih kelas yang sama. Masih murid yang sama.

Fajar masih duduk di belakang.

Kali ini, ketika suara mulai ribut, Pak Dimas tidak diam.

Ia mengetuk meja. Sekali.

Tidak keras. Tapi tegas.

“Cukup.”

Suasana sedikit terdiam.

Ia menatap mereka satu per satu.

“Saya mungkin tidak akan marah-marah. Tapi bukan berarti saya tidak peduli. Di kelas ini, kalian boleh bercanda. Tapi ada batas. Dan saya akan jaga batas itu.”

Tak ada ancaman.

Tak ada bentakan.

Tapi ada ketegasan yang berbeda.

Fajar perlahan duduk lebih tegak.

Untuk pertama kalinya, ia membuka buku tanpa disuruh.

Pak Dimas tersenyum kecil.

Ia akhirnya mengerti.

Menjadi guru di zaman ini bukan soal keras atau lembut.

Bukan soal takut atau berani.

Tapi tentang menemukan cara untuk tetap mendidik, tanpa kehilangan hati, dan tanpa kehilangan arah.

Di tengah dunia yang mudah tersinggung, ia memilih satu hal:

Tetap hadir.

Tetap peduli.

Dan tetap berani… dengan cara yang lebih manusiawi.

November 2025, Kang Surya

Related posts

Ayah, yang Tidak Pernah Berhenti Mengajar

Surya

Kantin yang Tidak Dijaga

Surya

Guru yang Hampir Pensiun, Tapi Justru Paling Bersemangat

Surya

Leave a Comment