Biasanya, mendekati akhir, orang mulai melambat.
Mengurangi beban.
Menghindari hal baru.
Menjalani saja sampai selesai.
Tapi tidak dengan Bu Tuti.
Usianya sudah tidak muda.
Masa kerjanya tinggal hitungan waktu.
Tapi setiap ada pelatihan, ia selalu hadir.
Duduk di depan.
Mencatat.
Bertanya.
Beberapa guru muda bahkan kadang kalah cepat.
Saya pernah melihatnya mencoba aplikasi baru.
Beberapa kali salah.
Beberapa kali mengulang.
Tapi ia tidak berhenti.
“Bu, tidak capek?” saya bertanya.
Ia tertawa.
“Capek, Pak.”
Jawaban jujur.
“Tapi sayang kalau berhenti.”
Suatu sore, kami duduk di bangku depan sekolah.
Langit mulai redup.
Siswa sudah pulang.
“Bu, kenapa masih seaktif ini?”
Ia tidak langsung menjawab.
Menatap ke halaman.
“Pak…”
“Saya ini sudah dekat selesai.”
Kalimat itu tenang.
Tidak sedih.
“Justru karena itu… saya tidak ingin biasa-biasa saja.”
Saya terdiam.
Ia melanjutkan,
“Kalau nanti saya berhenti, saya ingin ingat… saya tidak hanya menunggu.”
Angin sore lewat pelan.
“Dulu saya juga pernah di fase lelah, Pak.”
Ia tersenyum.
“Tapi kalau diingat-ingat, masa kerja ini terlalu berharga kalau dihabiskan dengan setengah hati.”
Hari itu, saya belajar….
Semangat tidak ditentukan usia.
Tidak juga oleh waktu yang tersisa.
Tapi oleh keputusan, apakah kita ingin tetap hidup sepenuhnya…atau hanya menunggu selesai.
Coretan Kang Surya
