Pagi itu, saya berdiri di gerbang sekolah.
Seperti biasa.
Menyambut siswa yang datang satu per satu.
Ada yang berlari.
Ada yang mengantuk.
Ada yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
Hari terlihat normal.
Seperti hari-hari lainnya.
Satu per satu guru datang.
Saya menyapa mereka.
“Pagi, Bu.”
“Pagi, Pak.”
Senyum dibalas dengan senyum.
Sapaan dibalas dengan sapaan.
Sederhana.
Tapi pagi itu… saya melihat mereka dengan cara yang berbeda.
Saya melihat Bu Ina, yang pernah mengajar dengan mata lelah setelah semalaman menjaga anaknya di rumah sakit.
Saya melihat Pak Dedi, yang tetap datang, meski hidupnya tidak pernah benar-benar mudah.
Saya melihat Bu Rani, yang pernah hampir menyerah, tapi memilih belajar lagi dari awal.
Saya melihat Bu Retno, yang melawan rasa takutnya untuk tetap relevan di tengah perubahan.
Saya melihat Bu Sari, yang pernah memberi terlalu banyak, sampai hampir kehilangan dirinya sendiri.
Saya melihat Bu Maya, yang menyembunyikan luka, tapi tetap berdiri di depan kelas.
Saya melihat Pak Jaja, yang dianggap biasa, tapi dirindukan ketika tidak ada.
Saya melihat Bu Nining, yang tegas di luar, tapi diam-diam menjaga dengan penuh kasih.
Saya melihat Pak Arif, yang pernah jatuh, tapi memilih bangkit.
Saya melihat Pak Budi, yang hampir berhenti, lalu diselamatkan oleh satu kalimat sederhana dari muridnya.
Saya melihat Bu Lilis, yang tertawa paling keras, tapi menyimpan luka paling dalam.
Saya melihat Bu Ani, yang tidak menyerah, meski lama tidak terlihat hasilnya.
Saya melihat Pak Hasan, yang bekerja dalam diam, tapi mengubah banyak hal.
Dan saya melihat Bu Tuti, yang mendekati akhir, tapi tetap berjalan seolah baru memulai.
Mereka semua ada di depan saya.
Bukan sebagai tokoh dalam cerita.
Tapi sebagai manusia.
Dengan kehidupan yang tidak selalu mudah.
Dengan beban yang tidak selalu terlihat.
Dan pagi itu, saya sadar sesuatu yang selama ini mungkin saya tahu…tapi belum benar-benar saya pahami.
Sekolah ini berjalan bukan karena semuanya sempurna.
Tapi karena mereka tetap datang.
Mereka datang, meski semalam tidak tidur.
Mereka datang, meski hati sedang tidak baik-baik saja.
Mereka datang, meski lelah belum sempat hilang.
Tidak ada tepuk tangan setiap pagi.
Tidak ada penghargaan untuk hal-hal kecil yang mereka lakukan.
Tidak ada yang benar-benar tahu, apa yang mereka tinggalkan di rumah untuk bisa berdiri di kelas.
Tapi mereka tetap datang.
Dan mungkin… itulah bentuk pengabdian yang paling jujur.
Saya berdiri di gerbang lebih lama dari biasanya.
Memperhatikan satu per satu langkah mereka.
Langkah yang mungkin terlihat biasa.
Tapi sebenarnya… luar biasa.
Seorang guru menyapa siswa.
Seorang guru merapikan seragam anak didiknya.
Seorang guru menepuk bahu siswa yang tampak murung.
Hal-hal kecil.
Tapi penuh makna.
Saya menarik napas pelan.
Dan dalam hati, saya berkata….
Saya tidak akan lagi melihat mereka hanya dari laporan kinerja.
Tidak hanya dari angka.
Tidak hanya dari hasil.
Saya akan melihat mereka sebagai manusia.
Yang sedang berjuang.
Yang sedang bertahan.
Yang sedang memberi… dengan cara mereka masing-masing.
Hari itu, saya tidak memberi instruksi.
Tidak membuat kebijakan baru.
Saya hanya melakukan satu hal sederhana.
Saya menghampiri mereka.
Satu per satu.
“Terima kasih, Bu.”
“Terima kasih, Pak.”
Beberapa tersenyum bingung.
Beberapa hanya mengangguk.
Mungkin mereka tidak terbiasa mendengar itu.
Tapi saya tahu, itu perlu.
Karena pada akhirnya,
Sekolah ini tidak butuh guru yang sempurna.
Sekolah ini butuh guru yang tetap datang.
Dan mereka…telah melakukannya setiap hari.
Tanpa banyak suara.
Tanpa banyak tuntutan.
Buku ini selesai di sini.
Tapi cerita mereka… tidak.
Besok pagi, mereka akan kembali.
Dengan cerita baru.
Dengan lelah yang mungkin sama.
Dengan harapan yang tetap dijaga.
Dan saya, akan kembali berdiri di gerbang.
Menyambut mereka.
Bukan hanya sebagai kepala sekolah.
Tapi sebagai seseorang yang belajar…dari mereka yang setiap hari memilih untuk tetap datang.
Coretan Kang Surya
