Kang Surya
CerpenTerbaru

Guru yang Hampir Menyerah, Lalu Diselamatkan Muridnya

Tidak semua titik balik datang dari atasan.

Kadang… justru dari murid.

Pak Budi termasuk guru yang dulu penuh semangat.

Suaranya lantang. Geraknya cepat. Ide-idenya banyak.

Tapi beberapa tahun terakhir, saya melihat perubahan.

Ia mulai sering diam.
Masuk kelas, mengajar seperlunya.
Tidak lagi berlama-lama di sekolah.

Seperti seseorang yang masih ada… tapi tidak benar-benar hadir.

Suatu sore, saya melihatnya duduk sendiri di parkiran.

Tidak langsung pulang.

Saya menghampiri.

“Belum berangkat, Pak?”

Ia tersenyum tipis.

“Sebentar lagi, Pak.”

Saya duduk di sampingnya.

Beberapa detik hening.

Lalu ia berkata pelan,

“Pak… saya lelah.”

Kalimat yang sering terdengar.

Tapi kali ini… berbeda.

“Lelah bagaimana?”

Ia menatap ke depan.

“Lelah merasa tidak berarti.”

Saya terdiam.

Ia melanjutkan,

“Saya sudah berusaha. Tapi rasanya tidak ada yang berubah. Murid tetap begitu. Sistem juga begitu.”

Ia tersenyum pahit.

“Kadang saya berpikir… untuk apa?”

Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat.

Beberapa hari setelah itu, saya mendapat kabar, Pak Budi mengajukan cuti panjang.

Alasannya: istirahat.

Saya mengerti.

Kadang, mundur sejenak adalah cara untuk bertahan.

Dua minggu kemudian, ia kembali.

Tidak banyak berubah.

Masih sama.

Sampai suatu hari, sesuatu terjadi di kelasnya.

Seorang siswa yang dikenal paling sulit… tiba-tiba datang menghampirinya setelah pelajaran.

“Pak…”

Pak Budi menoleh.

“Ada apa?”

Siswa itu berdiri canggung.

“Pak… makasih ya.”

Pak Budi terlihat bingung.

“Untuk apa?”

Siswa itu menunduk.

“Dulu waktu saya dimarahi semua guru… Bapak satu-satunya yang masih ngajarin saya.”

Ia berhenti sejenak.

“Sekarang saya mulai ngerti pelajaran. Walaupun dikit.”

Pak Budi diam.

Siswa itu melanjutkan,

“Jangan berhenti ya, Pak…”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk mengubah sesuatu.

Hari itu, Pak Budi tidak langsung pulang.

Ia duduk di kelas.

Lama.

Mengingat.

Sore harinya, ia datang ke ruang saya.

Matanya berbeda.

“Pak… ternyata masih ada yang peduli ya.”

Saya tersenyum.

“Selalu ada, Pak. Kadang kita saja yang tidak melihat.”

Hari itu, saya belajar…

Guru bisa kehilangan arah.

Tapi satu siswa yang tulus…bisa mengembalikannya.

Coretan Kang Surya

Related posts

Jalan Boleh Gelap, Langkah Jangan Berhenti

Surya

Menjelang TKA 2026 di Kabupaten Kuningan

Surya

Rumah yang Tidak Pernah Pindah

Surya

Leave a Comment