Di sekolah, ada guru yang disukai.
Ada juga yang… ditakuti.
Dan Bu Nining termasuk yang kedua.
Suaranya tegas.
Tatapannya tajam.
Aturannya jelas.
Tidak banyak toleransi.
“Kalau terlambat, tetap terlambat.”
“Kalau tidak mengerjakan, tetap tidak mengerjakan.”
Tidak ada negosiasi.
Banyak siswa menghindari kelasnya.
Bukan karena tidak suka.
Tapi karena tidak ingin berurusan.
“Galak, Pak…” kata mereka.
Saya hanya tersenyum.
Karena saya tahu, ceritanya tidak sesederhana itu.
Suatu hari, seorang siswa dipanggil ke ruang saya.
Masalah disiplin.
Tidak mengerjakan tugas berulang kali.
Dan yang melaporkan… Bu Nining.
Saya pikir, ini akan jadi teguran keras.
Tapi ketika siswa itu masuk ke ruangannya terlebih dulu, sesuatu yang berbeda terjadi.
Saya tidak langsung masuk.
Saya berdiri di luar. Mendengarkan.
“Kenapa tidak dikerjakan?” suara Bu Nining tegas.
Siswa itu diam.
“Ini bukan sekali dua kali.”
Masih diam.
Lalu… nada suaranya berubah.
Lebih pelan.
“Ada masalah di rumah?”
Saya terdiam.
Beberapa detik hening.
Lalu suara siswa itu mulai bergetar.
“Iya, Bu…”
Dan cerita pun mengalir.
Tentang orang tua yang berpisah.
Tentang harus membantu bekerja.
Tentang tidak sempat belajar.
Saya masuk pelan.
Bu Nining menoleh.
Suaranya kembali tegas.
“Tugas tetap harus dikerjakan.”
Saya sempat berpikir, ia tetap keras.
Tapi ia melanjutkan,
“Kalau tidak bisa sekarang, kita cari waktu lain. Ibu bantu.”
Siswa itu mengangguk, matanya merah.
Beberapa hari kemudian, saya melihat mereka di perpustakaan.
Duduk berdua.
Bu Nining menjelaskan pelan.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada tekanan.
Hanya kesabaran.
Sore itu, saya menghampirinya.
“Bu, kenapa tidak dari awal saja lembut?”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau dari awal lembut, mereka tidak akan serius, Pak.”
Saya tertawa pelan.
“Ada benarnya.”
Ia melanjutkan,
“Tapi kalau hanya tegas tanpa peduli… itu bukan mendidik.”
Saya mengangguk.
Hari itu, saya belajar…
Tidak semua kasih sayang datang dengan suara lembut.
Ada yang hadir dalam ketegasan.
Ada yang menjaga jarak… agar siswa belajar tanggung jawab.
Dan di balik wajah yang dianggap “galak”,
sering kali ada hati yang paling menjaga.
Coretan Kang Surya
