Kang Surya
CerpenTerbaru

Guru yang Selalu Tertawa, Tapi Paling Pandai Menyembunyikan Luka

Kalau ada suara paling mudah dikenali di ruang guru, itu suara Bu Lilis.

Tawanya datang lebih dulu, sebelum orang lain sempat membuka pembicaraan.
Candanya cepat. Ringan. Kadang terasa seperti penawar suasana.

“Jangan tegang-tegang, nanti cepat tua!” katanya suatu pagi.

Semua tertawa.

Dan biasanya, setelah itu, suasana mencair.

Di antara banyak guru, Bu Lilis seperti penjaga energi.

Kalau rapat mulai kaku, ia menyelipkan humor.
Kalau ada yang terlihat murung, ia datang, menepuk bahu, mengajak bicara.

Seolah ia punya cadangan kebahagiaan yang tidak pernah habis.

Dan mungkin… justru di situlah ia menyembunyikan sesuatu.

Saya mulai merasa ada yang berbeda pada suatu siang.

Ruang guru sedang sepi.

Sebagian sudah masuk kelas. Sebagian ke luar.

Dan di sudut, Bu Lilis duduk sendiri.

Tidak tertawa.

Tidak berbicara.

Tangannya memegang gelas, tapi tidak diminum.

Tatapannya kosong.

Saya berdiri di pintu, tidak langsung masuk.

Karena ada momen yang tidak perlu diganggu.

Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang.

Lalu, seperti menyadari dirinya sedang sendiri, ia tersenyum tipis kepada siapa pun yang mungkin melihat.

Senyum yang cepat sekali datang.

Seperti refleks.

Saya masuk.

“Bu, lagi diam saja?”

Ia langsung tertawa kecil.

“Lagi hemat energi, Pak.”

Jawaban yang ringan.

Terlalu ringan.

Hari itu, ia kembali seperti biasa.

Tertawa. Bercanda. Menghidupkan suasana.

Seolah momen tadi tidak pernah ada.

Beberapa hari kemudian, saya mendengar kabar, tidak dari dia langsung.

Tentang masalah di rumah.

Tentang kondisi yang tidak mudah.

Tentang sesuatu yang, kalau diceritakan, mungkin cukup membuat orang lain ikut lelah.

Saya tidak langsung menanyakannya.

Karena saya tahu, orang seperti Bu Lilis tidak mudah membuka.

Bukan karena tidak percaya.

Tapi karena terbiasa menahan.

Sore itu, setelah jam pelajaran selesai, saya melihatnya lagi.

Kali ini di ruang kelas kosong.

Ia duduk di bangku siswa.

Tidak ada yang istimewa.

Tapi kali ini, saya tidak ingin melewatkannya.

“Bu Lilis.”

Ia menoleh.

Tersenyum lagi.

Selalu begitu.

“Saya duduk ya, Bu?”

Ia mengangguk.

Kami duduk berdampingan.

Tidak langsung bicara.

Beberapa detik berlalu.

Saya berkata pelan,

“Tidak apa-apa kalau tidak selalu kuat.”

Ia diam.

Senyumnya tidak langsung muncul.

Untuk pertama kalinya, jeda itu terasa panjang.

“Pak…” suaranya pelan,
“kalau saya tidak kuat… nanti yang lain ikut tidak kuat.”

Saya menatapnya.

“Siapa yang bilang begitu?”

Ia tersenyum kecil.

“Perasaan saya saja.”

Ia menunduk.

Dan pelan, air matanya jatuh.

Cepat ia hapus.

Refleks.

Seperti biasa.

“Saya tidak ingin orang lain ikut sedih, Pak.”

Kalimat itu tulus.

Tapi juga… menyimpan beban.

Saya tidak memberi nasihat panjang.

Saya hanya berkata,

“Kadang, membiarkan orang lain tahu kita sedang tidak baik-baik saja… bukan membuat mereka sedih.”

Saya berhenti sejenak.

“Justru memberi mereka kesempatan untuk peduli.”

Ia tidak menjawab.

Tapi saya melihat sesuatu berubah.

Kecil.

Tapi nyata.

Hari-hari berikutnya, Bu Lilis tetap tertawa.

Tetap bercanda.

Tetap menjadi dirinya.

Tapi ada yang berbeda.

Ia tidak selalu menutupi semuanya.

Sesekali, ia berkata,

“Hari ini lagi capek ya…”

Kalimat sederhana.

Tapi jujur.

Dan anehnya, orang-orang tidak menjauh.

Mereka justru mendekat.

Hari itu, saya belajar…..

Tidak semua yang terlihat kuat… benar-benar kuat.

Dan tidak semua yang tertawa… sedang bahagia.

Kadang, keberanian terbesar bukan tertawa di depan banyak orang.

Tapi mengakui, bahwa kita juga butuh ditopang.

Coretan Kang Surya

Related posts

Rumah yang Tidak Pernah Pindah

Surya

Hari Ketika Seorang Siswa Tidak Kembali

Surya

Mereka yang Tetap Datang

Surya

Leave a Comment